Thursday, March 20, 2014

Gender

Gender



https://www.youtube.com/watch?v=hxMsBcTdBQk


Pengertian Kesetaraan Gender

Hungu (2007) mengatakan “seks ( jenis kelamin ) merupakan perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks ( jenis kelamin ) berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memproduksikan sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya.

Sedangkan secara etimologis, gender memiliki arti sebagai perbedaan jenis kelamin yang diciptakan oleh seseorang itu sendiri melalui proses social budaya yang panjang. perbedaan perilaku antara laki – laki dengan perempuan selain disebabkan oleh factor biologis juga factor proses social dan cultural. oleh sebab itu gender dapat berubah – ubah dari tempat ke tempat, waktu ke waktu, bahkan antar kelas social ekonomi masyarakat.

dapat disimpulkan perbedaan antara jenis kelamin dengan gender yaitu, jenis kelamin lebih condong terhadap fisik seseorang sedangkan gender lebih condong terhadap tingkah lakunya. selain itu jenis kelamin merupakan status yang melekat / bawaan sedangkan gender merupakan status yang diperoleh / diperoleh. Gender tidak bersifat biologis, melainkan dikontruksikan secara sosial. Karena gender tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari melalui sosialisasi, oleh sebab itu gender dapat berubah.

Kesetaraan Gender di Indonesia dalam Bermasyarakat
Perbedaan gender terkadang dapat menimbulkan suatu ketidakadilan terhadap kaum laki – laki dan terutama kaum perempuan. Ketidakadilan gender dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni :

a.    Marginalisasi Perempuan
Salah satu bentuk ketidakadilan terhadap gender yaitu marginalisasi perempuan. Marginalisasi perempuan ( penyingkiran / pemiskinan ) kerap terjadi di lingkungan sekitar. Nampak contohnya yaitu banyak pekerja perempuan yang tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki, dan perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang umumnya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Dengan hal ini banyak sekali kaum pria yang beranggapan bahwa perempuan hanya mempunyai tugas di sekitar rumah saja.

b.    Subordinasi             
Selain Marginalisasi, terdapat juga bentuk keadilan yang berupa subordinasi. Subordinasi memiliki pengertian yaitu keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibandingkan jenis kelamin lainnya. Sudah sejak dahulu terdapat pandanganyang menempatkan kedudukan dan peran perempuan yang lebih rendah dari laki – laki. Salah satu contohnya yaitu perempuan di anggap makhluk yang lemah, sehingga sering sekali kaum adam bersikap seolah – olah berkuasa (wanita tidak mampu mengalahkan kehebatan laki – laki). Kadang kala kaum pria beranggapan bahwa ruang lingkup pekerjaan kaum wanita hanyalah disekitar rumah. Dengan pandangan seperti itu, maka sama halnya dengan tidak memberikan kaum perempuan untuk mengapresiasikan pikirannya di luar rumah.

c.    Pandangan stereotype
Setereotype dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender, yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin, (perempuan), Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat, bahkan di tingkat pemerintah dan negara.

d.   Beban Ganda
Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidakadilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki, dan beberapa dilakukan oleh perempuan. Berbagai observasi, menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Sehingga bagi mereka yang bekerja, selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dalam proses pembangunan, kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan, terutama bila bergerak dalam bidang publik. Dirasakan banyak ketimpangan, meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi.



  Pandangan Agama terhadap kesetaraan Gender

a.    Kesetaraan gender menurut agama muslim
Sejak 15 abad yang lalu Islam telah menghapuskan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin. Islam memberikan posisi yang tinggi kepada perempuan. Prinsip kesetaraan dan keadilan gender dalam Islam tertuang dalam Kitab Suci Al-Quran. Dalam ajaran Islam tidak dikenal adanya isu gender yang berdampak merugikan perempuan. Islam bahkan menetapkan perempuan pada posisi yang terhormat, mempunyai derajat, harkat, dan martabat yang sama dan setara dengan laki – laki.

b.    Kesetaraan gender dari sudut pandang agama khatolik

Permasalahan gender dalam Katolik tidak terlepas dari konteks tradisi dan budaya, khususnya budaya agama Yahudi. Dalam agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender. Ketika suatu perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai suatu kebenaran. Begitu juga di Indonesia, ajaran kristen tidak dapat terlepas dari budaya warga Indonesia. Dalam Kejadian 2 (Kejadian 2 (disingkat Kej 2) adalah bagian dari Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani atauPerjanjian Lama di Alkitab Kristen.) Disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari bumi. Manusia yang pertama kali diciptakan adalah Adam. Kemudian dari tulang rusuk Adam diciptakanlah Hawa. Kemudian disebutkan bahwa Adam jatuh ke dalam dosa karena Hawa. Teks ini memunculkan pandangan bahwa perempuan adalah manusia kedua. Perempuan juga dipandang sebagai sumber dosa. Gereja mengambil teks ini sebagai dasar pandangan hubungan (relasi) antara laki-laki dengan perempuan. Hubungan ini dipandang hanya berdasarkan jenis kelamin saja. Posisi subordinat (posisi yang rendah) perempuan seperti inilah yang menjadi dasar pandangan awal gereja mengenai perempuan.


c.    Kesetaraan gender dari sudut pandang agama Kristen
Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan perempuan dan laki-laki menurut gambar dan rupa Allah: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej.1:27). Maksuddari ungkapan ‘menurut gambar Allah’ dalam ayat ini tidak dalam arti bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta. Ungkapan itu lebih berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk mulia, kudus, dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, serta layak menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin bagi segala makluk (Kej.1:28-30). Status se-“gambar” dengan Allah dimiliki tidak hanya oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Kedua pihak punya status yang sama. Sebab itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya karena perbedaan jenis kelamin.

d.   Kesetaraan gender dari sudut pandang agama Budha
Dalam kehidupan bermasyarakat, sang budha tidak membedakan peran laki-laki maupun perempuan. Mereka memliki peran yang setara dan adil. Seperti laki-laki, perempuan juga bisa menjadi majikan, atasan, guru(brahmana) sesuai kotbah sang Budha.

e.    Kesetaraan gender dari sudut pandang agama Hindhu
Pengertian gender dalam agama Hindu merupakan hubungan sosial yang membedakan perilaku antara perempuan secara proposional menyangkut moral, etika, dan budaya, bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan diharapkan untuk berperan dan bertindak sesuai ketentuan sosial, moral, etika, dan budaya di mana mereka berada. Ada yang pantas dikerjakan oleh laki-laki ditinjau dari sudut sosial, moral, dan budaya, tetapi tidak pantas dikerjakan oleh perempuan,demikian pula sebaliknya.Sesuai ajaran agama hindu, gender bukan merupakan perbedaan sosial antara laki-laki dan perempuan. agama hindu mengajarkan bahwa seluruh umat manusia di perlakukan sama di hadapan tuhan sesuai dengan dharma baktinya.


SUMBER:

md101j.files.wordpress.com/2011/10/makalah-agama-kel-5-sore.docx

Rabu, 18-maret-2013

Budaya Nasional


syifadiba.wordpress.com


Pengertian Budaya Nasional

Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurut Soerjanto Poespowardojo 1993). Selain itu Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta  yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. 

Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari kebudayaan daerah yang ada di Negara tersebut. Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. 

Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian,moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.

Macam macam dimensi budaya nasional

           Budaya Nasional dibagi menjadi beberapa dimensi, diantaranya adalah:

           1.PDI (power distance index); merupakan sebuah tingkat terkait dengan sebuah kekuasaan di dalam suatu organisasi. Rendahnya kekuasaan anggota dalam institusi maupun organisasi dapat diterima. Dalam hal ini, anggota dalam sebuah organisasi atau institusi memiliki sebuah kekuasaan yang bervariasi.

           2.IDV (individualism); merupakan perlawanan dari kolekstifisme. Dalam hal ini kolektifisme individu dilekatkan pada kelompoknya, kohesivitas dalam kelompok sangat tinggi. Pada karakter individualism maka hubungan antar individu terlihat hilang, identifikasi terlihat pada diri pribadi baru.

3.MAS (masculinity); merupakan kebalikan dari feminimitas. Dalam dimensi ini terkait pada sebuah kedudukan maupun nilai gender yang terdapat pada suatu daerah atau negara. Konteks kedudukan seorang laki-laki dan perempuan dalam beberapa daerah memiliki sebuah perbedaan pengakuan.

           4.UAI (Uncertainty Avoidance Index); merupakan yang terkait dengan urusan toleransi akan sebuah ambiguitas dan ketidakpastian. Pada budaya yang tidak mampu menerima sebuah ketidakpastian lebih emosional dan terdorong oleh sebuah energy kegelisahan, meminimalkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi dengan menggunakan peraturan-peraturan yang ketat. 

            5.LTO (Long Term Orientation); merupakan dimensi yang berlawanan pada orientasi jangka pendek. Dalam komunitas yang memiliki dimensi LTO yang tinggi maka diasosiasikan dengan keadaan akan tingkat penghematan dan ketekunan yang dimiliki oleh sebuah komunitas.


    Ragam Budaya Nasional

            indonesia adalah Negara yang mempunyai banyak pulau, dan itulah yang melatar belakangi banyaknya ragam budaya nasional. Keanekaragaman budaya disebabkan oleh beberapa factor, antara lain karena manusia tidak memiliki struktur anatomi secara khusus pada tubuhnya sehingga harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
        
          Penerusan kebudayaan dapat dilakukan secara horizontal dan vertikal. Peneruzan secara horizontal dilakukan terhadap satu generasi dan biasanya secara lisan, sedangkan penerusan vertikal dilakukan antar generasi dengan jalan melalui tulisan (literer). Dengan daya ingat yang tinggi, manusia mapu menyimpan pengalaman sendiri maupun yang diperoleh dari orang lain.
            Kebudayaan dijabarkan dalam komponen-komponen biologi, psikologi, dan sosiologi. biologi, psikologi, dan sosiologimerupakn tiga komponen yang membentuk pribadi manusia. Secara biologis, manusia mempunyai sifat-sifat yang diturunkan orang tuanya (hereditas) yang diperoleh sewaktu dalam kandungan sebagai kodrat pertama (primary nature). Bersamaan dengan itu, manusia juga memiliki sifat-sifat psikologi yang sebagian diperolehnya dari orang tuanya sebagaian dasar atau pembawaannya. Setelah bayi di lahirkan dan berkembang menjadi anak dalam alam kedua (secondary nature), terbentuklah pribadinya oleh lingkungan, khususnya melalui pendidikan. Manusia sebagai unsure masyarakat dalam lingkungan ikut seta dalam pembentukan kebudayaan.
 Kebudayaan mempunyai struktur cultural universal yang telah dikemukakan, unsur-unsurnya dapat dibagi dalam bagian-bagian kecil yang disebut traits complex, lalu terbagi lagi dalamtraits, items. Misalnya, system ekonomi dapat dibagi antara lain menjadi bertani.

Budaya Nasional Cagar Budaya

Budaya Nasional Indonesia adalah suatu mekanisme yang terbentuk dari unsur-unsur yang berkaitan dengan zaman prasejarah,jadi ibarat pohon,pohon tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya akar,demikian pula dengan kebudayaan pada suatu Negara tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya akar atau pendahulu yang membentuk kebudayaan tersebut.

Organisasi Lintas Budaya 
                             
Organisasi lintas budaya sendiri, maksudnya adalah memahami keragaman budaya yang ada di dunia sekaligus dampak budaya tersebut terhadap kelangsungan masyarakat sosial dalam lingkup budaya tertentu. Sementara kalau dalam psikologi lintas budaya, pembahasannya seputar pengaruh lingkungan budaya terhadap perilaku individu. Fungsi dari lintas budaya sendiri kalau menurut saya untuk merentangkan toleransi kita ketika berhadapan dengan anggota masyarakat dari budaya yang berbeda dengan kita sendiri.

SUMBER:

Bakker, JWM. 1999. ”Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar”. Penerbit Kanisius; Yogyakarta.
Dewantara, Ki Hajar. 1994. ”Kebudayaan”. Penerbit Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa; Yogyakarta.
Sarjono. Agus R (Editor). 1999. ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita”. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; Jakarta. Suseno, Franz Magnis. 1992. ”Filsafat Kebudayaan Politik”. Penerbit Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.


Rabu, 19-maret-2014

Sunday, March 16, 2014

Culture (Materi Presentasi)

Materi presentasi kelompok 3 tentang Culture.

I. Definisi Culture
Culture does not refer solely to the arts and refined intellectual taste. It consists of all objects and ideas within a sociey.

culture:that complex whole which includes, knowledge, belief, arts, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society” - Edward B 



Aspect of culture:
•Slang words

•Food
•Sports
•Music genres
•Dances

II. Culture is Learned
"Enculturation refers to the process of learning a culture consisting in socially distributed and shared knowledge manifested in those perceptions, understandings, feelings, intentions, and orientations that inform and shape the imagination and pragmatics of social life" (Peter-Poole, 2002).









Medias of enculturation:
•Family
•Community
•School
Function of enculturation:
•Teach us the cultural value
•Identitas sosial

Every human mind inherits a complement of species-specific “elementary ideas” (Elementargedanken), and hence the minds of all people, regardless of their race or culture, operate in the same way. – Adolf Bastian  

III. Culture is Shared
  • from parents to their child
  • from society to an individual
  • to an individual to another


IV. Culture is Symbolic

a symbol is something verbal or nonverbal within a particular language or culture that comes to stand for something else.
   a symbol is anything that is used to represent any other thing
Non Verbal

verbal

V. Culture and Nature
Natural condition has effects on culture.
Humans interact with cultural constructions of nature, rather than directly with nature itself

VI. Culture is adaptive and maladaptive
•Culture is an adaptive strategy employed
•Because cultural behavior is motivated by cultural factors. Cultural behavior can be maladaptive.
•For determining a cultural practice is adaptive or maladaptive we can viewing the results from the several perspective.
In indonesia so many people are muslims and the muslim culture they must cover they body that’s why they  wear long clothes or hijab. Different from other countries  they  not pay attention to covered they body.

VII. Ethnocentrism and cultural relativism
Ethnocentrism is the use of values, ideals, and mores from one’s own culture to judge the behavior of someone from another culture. What “we” believe is religion; what “they” believe is supersition and mythology.
Example: carok culture is an attempt to kill each other is done by men with sharp weapons

Cultural Relativism asserts that cultural values are arbitrary, and therefore the values of one culture should not be used as standards to evaluate the behavior of persons from outside that culture.
For example, views of sex before married.

VIII. Diffusion
defined as a deployment process that includes elements of cultural ideas, beliefs, and so on from individual to another individual, from one group to another group, of a community or society to another

Example
For example, the culture of western society (European Countries) enter and influence the culture of the eastern (Asian and African nations).
of cultural dissemination to other communities in peace. influx of Hindu culture, Buddhist, and Islam to Indonesia
The spread of culture through violence and coercion. For example, colonization and the imposition of the will.


Sumber: 
 12 -03 - 2014  disaring dari: http://iguh-meister.blogspot.com/2012/01/enkulturasi.html\
12 -03 - 2014  disaring dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Adolf_Bastian
12 -03 - 2014 http://www.anthrobase.com/Dic/eng/def/psychic_unity.htm
Slide Binusmaya. (2013). Human Diversities 1: Language, Communication, Culture, and Ethnicity. Jakarta : Bina Nusantara University






Saturday, March 8, 2014

Modernization Theory (Materi Presentasi)

Penjelesan lebih lengkap dari slide presentasi kelompok 3. Kelas 02PCE.

 Modernization Theory

Teori Modernisasi muncul pada 1950-an sebagai penjelasan tentang bagaimana masyarakat industri Amerika Utara dan Eropa Barat dikembangkan. Pembangunan terutama tergantung pada impor teknologi serta sejumlah perubahan politik dan sosial lainnya. Sebagai contoh, modernisasi melibatkan peningkatan tingkat pendidikan dan perkembangan media massa, baik dari lembaga-lembaga politik yang demokratis asuh. Transportasi dan komunikasi menjadi semakin canggih dan mudah diakses, populasi menjadi lebih urban dan mobile. Organisasi menjadi birokrasi sebagai pembagian kerja tumbuh lebih kompleks dan agama menurun dalam pengaruh publik. Terakhir, pasar yang dkendalikan oleh uang mengambil alih sebagai mekanisme utama melalui mana barang dan jasa dipertukarkan.



Culture dibedakan menjadi dua: Premodern culture dan modern culture.

Premodern:
•Stable (perubahan di budaya premodern tidak secepat perubahan di budaya modern)
•Local (ruang lingkupnya tidaj besar)
•Paternalistic hierarchy in both family and society (sistem keluarga condong ke pada sisi ayah. misalnya nama belakang istri akan berubah menjadi nama belakang suaminya)
•Absence of specialized roles (tidak adanya peran spesial yang jelas. pekerjaan, rekreasi, ibadah menjadi satu kesatuan)
•Family and community woven together with respect to labor, leisure, and religion (keluarga dan komunitas dibentuk oleh kegiatan seperti kerja, rekreasi dan keagamaan)

•Dependence on manual labor/muscle power (pekerjaan kebanyakan mengandalkan otot)

perkumpulan di desa tidak memiliki susunan organisasi yang jelas seperti masyarakat modern.



Modern Culture:
•Dynamic (selalu terjadi perubahan dalam waktu yang singkat)
•Cosmopolitan (ruang lingkup di perkotaan yang lebih luas)
•Functional social structure: conforms to shifting politics and economics
•Meritocratic (prestasi individu menjadi tolak ukur)
•Highly specialized (ada batasan yang jelas dalam setiap apa yang dikerjakan)
•Family and community divided by socio-economic status, job, etc. 

masyarakat yang dinamis

Olahraga dalam masyarakat premodern dan modern:
Meskipun olahraga dan permainan terlihat serupa. Namun ada tiga dimensi dalam olahraga yang menyebabkan kita tidak menerima bahwa olahraga=permainan. Dimensi tersebut adalah: 
• physical training 
• games 
• contests 

Permainan adalah model yang baik untuk 
kehidupan sosial. Banyak peran berikut aturan buatan manusia yang dimainkan. Jadi, permainan ini dianggap sebagai 
mengatur pola perilaku yang memecahkan situasi simbolik. Perbedaan yang paling penting 
antara kehidupan sosial dan permainan adalah bahwa permainan harus dipilih atas kemauan sendiri.

Olahraga pada premodern dan modern culture memiliki perbedaan yaitu:
Premodern:
•Organization
–Nonexistent or informal (tidak memiliki badan olahraga secara formal dan nyata)
–Arranged directly or indirectly
•Rules
–simple, unwritten
–based on local customs/traditions


Karapan Sapi: salah satu bentuk olahraga di premodern culture

  
Modern:
•Organization
–Formal (memiliki badan olahraga yang jelas. misal: PSSI, PBSI dll
–Differentiated at local, regional, national levels
•Rules
–formal, standard, written (memliki aturan permainan yang sudah tertulis dan sudah ditetapkan)
–rational and overseen by organization (diatur oleh sebuah organisasi yang bertanggungjawab)
Badminton memiliki aturan tertulis dan diatur oleh organisasi resmi.




Dualism dan Monism

Apa itu dualism?

Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.
Gagasan tentang dualisme jiwa dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa "kecerdasan" seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi atau dijelaskan dengan fisik.
Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh RenĂ© Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang. Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis monisme, termasuk fisikalisme dan fenomenalisme. Substansi dualisme bertentangan dengan semua jenis materialisme, tetapi dualisme properti dapat dianggap sejenis materilasme emergent sehingga akan hanya bertentangan dengan materialisme non-emergent. 
Rene Descartes. Salah satu yang menerapkan teori dualisme

Apa itu monism?
Monisme adalah konsep metafisika dan teologi bahwa hanya ada satu substansi dalam alam. Monisme bertentangan dengan dualisme dan pluralisme. Dalam dualisme terdapat dua substansi atau realita sementara dalam pluralisme terdapat banyak realita. Konsep monisme seringkali dihubungkan dengan panteisme dan konsep Tuhan yang kekal.

Extensialisme
Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari bahasa Latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya sendiri, manusia sadar tentang dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi. Pikiran semacam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein (da artinya di sana, sein artinya berada).
Untuk lebih memberikan kejelasan tentang filsafat eksistensialisme ini, perlu kiranya dibedakan dengan filsafat eksistensi. Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi adalah benar-benar seperti arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral. Sedangkan filsafat eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia; sapi dan pohon juga. Akan tetapi cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia; ia mengalami beradanya di dunia itu; manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu dan salah satu di antaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Artinya bahwa manusia sebagai subyek. Subyek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya disebut obyek. 

•Three stages of life experience: Aesthetic, Ethical, Religious

Phenomology
Fenomenologi adalah studi tentang struktur kesadaran seperti yang dialami dari sudut pandang orang pertama.. Struktur utama dari pengalaman adalah intensionalitas nya, yang diarahkan terhadap sesuatu. Pengalaman diarahkan obyek berdasarkan isi atau makna (yang merupakan objek) bersama-sama dengan kondisi pemungkin yang sesuai.



Refrensi:
http://sociology.about.com/od/M_Index/g/Modernization-Theory.htm
http://web.ff.cuni.cz/~pelis/SpoModSoc.pdf
http://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/
http://adam-damiri.blogspot.com/2012/04/filsafat-modern-iii-pragmatisme.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Dualisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Monisme


Sunday, March 2, 2014

Hasil Wawancara Mengenai Pandangan Masyarakat Awam Mengenai Psikologi, Sosiologi dan Filsafat.

Pada hari Kamis tanggal 27 Februari saya dan teman-teman dari kelompok 3 Alohomora mewawancarai dua orang staff dari Binus Univeristy untuk menanyakan apa yang mereka ketahui mengenai Sosiologi, Filsafat/Antropologi dan Psikologi.



Wawancara tersebut bertujuan untuk mengetahui apa pandangan masyarakat awam mengenai hal-hal tersebut. Berikut adalah hasil wawancara yang telah kami simpulkan.




1. Persamaan antara Sosiologi, Filsafat/antropologi dan Psikologi

Ketiga ilmu di atas mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan manusia.

2. Perbedaan

Meskipun sama-sama berpusat pada manusia, ketiga ilmu di atas memiliki ciri masing-masing yang membedakan antara yang satu dengan yang lain. Berikut adalah ciri-ciri tersebut:

Sosiologi: Ilmu ini lebih berfokus pada hubungan dan interaksi antar manusia. Seperti pergaulan sehari-hari dengan orang di sekitar.

Filsafat: Mempelajari tentang cara pandang, cara berpikir, dan cara bersikap akan ilmu. Menanyakan alasan, tujuan, dan asal usul dari sesuatu.

Psikologi: Mempelajar tentang pola pikir dan perilaku manusia.

3. Kesimpulan

Ketiga ilmu sama-sama mempelajari manusia dan meskipun memiliki perbedaan pada fokus dan ruang lingkupnya, ilmu ilmu tersebut masih berkaitan satu sama lain.